Infrastruktur Kota Dumai
  1. Listrik

    Guna menyalurkan energi dari pusat-pusat pembangkit diperlukan sarana transmisi dan distribusi. Sarana transmisi dan sistem PLN sekarang ini, mengenal adanya 3 (tiga) tingkat tegangan, yaitu tegangan tinggi 70kV dan 150 kV, serta tegangan ekstra tinggi 500 kV. Sedangkan untuk distribusi, digunakan teganan 20 kV. Saat ini tegangan 150 kV membentang di Riau, yaitu dari Kota Panjang Bangkinang, Bangkinang Garuda Sakti, Garuda Sakti Teluk Lembung, Garuda Sakti Duri, Duri Bagan Batu, dan Duri Dumai yang terhubung secara interkoneksi. Jaringan 150kV mencakup daerah yang luas untuk menyalurkan energi ke pusat-pusat beban.
    Tahun 2004 /2005 di Riau PLN telah menyalurkan energi listrik ke pusat-pusat beban melalui sistem kelistrikkan Riau yang terinterkoneksi. Sebagai tulang punggung adalah jaringan 150 kV dengan Gardu Induk yang tersebar dari Kota Panjang ke Duri, Bagan Batu, dan Dumai. Pusat-pusat pembangkit skala menengah di Kota panjang (3x38MW), Teluk Lembu(PLTGU Pekanbaru 2 x 21,6 MW) semuanya masuk ke jaringan 150 kV.
    Di gardu induk tegangan diturunkan ke 20 kV untuk kemudian disalurkan ke pusat-pusat beban yang selanjutnya didistribusikan ke pelanggan melalui jaringan distribusi (Bappeko Dumai, 2007).
    Secara  umum diketahui bahwa terjadi pertumbuhan konsumsi energi untuk setiap sektornya,dan jumlah pelanggan serta daya terpasang yang di layani PT PLN Cabang Dumai.

  2. Telekomunikasi

    Utilitas telepon merupakan sarana penunjang aktivitas penduduk baik dari segi komersial maupun sosial di Kota Dumai telah dilayani telekomunikasi modern termasuk telepon seluler dan sambungan internet. Bagaimanapun juga, perlu adanya tambahan layanan telekomunikasi seimbang dengan pertumbuhan Kota Dumai yang cepat dan kebutuhan masyarakat ysng semakin meningkat. Untuk memperkirakan kebutuhan –telepon, dipakai standar kebutuhan telepon  untuk rumah tangga (1 telepon = 250 jiwa),dan kebutuhan telepon umum sebesar 1 telepon = 1000 jiwa (Bappeko Dumai, 2007).

  3.  Air Bersih

    Kondisi Cakupan Pelayanan Air Minum Kota Dumai, yang dikelola oleh UPT Air minum di bawah Dinas Pekerjaan Umum saat ini hanya mampu melayani sebanyak 1367 Sambungan Rumah atau hanya melayani 3% dari jumlah penduduk Kota Dumai Dengan kapasitas hanya 40 l/det. Sisanya hanya mengandalkan dari air hujan untuk minum, dan air dari sumur permukaan yang kualitasnya sangat rendah karena sebagian besar kondisi tanah di Kota Dumai lempung dan rawa. Jika musim kemarau tiba masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Sebagian masyarakat Kota Dumai memilih membeli air bersih  dari perusahaan yang memiliki poengeboran air tanah atau air dari sumber air dari Bukit Batrem dengan harga sekitar  Rp.70.000,- per tangki dengan kapasitas 5000 lt atau Rp. 14.000/m3. Dengan air seharga tersebut tentunya sangat memberatkan bagi masyarakat, dan hanya golongan masyarakat tertentu saja yang sanggup membelinya.
    Bagaimana  dengan kondisi golongan masyarakat lemah yang memiliki penghasilan yang rendah, mungkin mereka henya bisa pasrah menggunakan air sumur yang ada dengan berkualitas yang rendah dan tidak layak pakai, serta rentang terhadap penularan penyakit.
    Air adalah sumber kehidupan, karena air merupakan kebutuhan utama bagiproses kehidupan dimuka bumi ini. Sebagai kebutuhan pokok hidup manusia, kualitas air sangat mempengaruhi  derajat kesehatan masyarakat. Semakin banyak air yang tersedia  dengan kualitas baik, akan lebih cepat dan lebih meningkat kemajuan kesehatan masyarakat. Sebagian besar penduduk Kota Dumai mengkonsumsi air dengan kualitas yang tidak sesuai dengan setandar baku mutu yang disyaratkan sehingga tidak layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tingginya keluhan warga terhadap kondisi air minum, mendapat perhatian sangat serius dan menjadi salah satu agenda mendasar pemerintah kota Dumai untuk segera mengatasinya.
    Perhatian pemerintah Kota Dumai terhadap kondisi kapasitas air minum tersebut, kemudian diwujudkan dengan mulai disusunnya Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Air Minum Kota Dumai.
    Proyek pada tahun 2006 yang akan dilakukan meliputi perencanaan dan pembangunan meliputi pengadaan dan pemasangan pipa dan bangunan pendukungnya beserta pembiayaan, dan pengelolaan infrastruktur air minum.

    • Pembangunan Sistem Pengelolaan Air

    Unit Pengambilan Air Baku (Intake)

    Air baku dari Sungai Mesjid yang berjarak  ± 16,5 km dari Kota Dumai. Bangunan intake berbentuk  rumah pompa yang ditempatkan di atas sungai dengan konstruksi baja, dilengkapi dengan jembatan intake untuk akes keluar masuk bangunan.
    Pipa Trasmisi Air Baku & Air Minum.


    Dari intake Sungai Mesjid, air baku dialirkan ke Instalisasi Pengelola Air  Jl. Jenderal Sudirman dengan bantuan pompa centrifugal melalui pipa trasmisi air baku panjang 16,5 km yang terdiri dari pipa diameter 300 mm sepanjang  9.000 m dan pipa ACP diameter 250 mm  sepanjang 6.500 m. Pompa transmisi yang digunakan adalah jenis centrifugal berkapasitas  80 I/det. Pemasangan pipa diatribusi air minum dari instalasi pengelola air Jl. Jenderal Sudirman menuju daerah-daerah pelayanan dengan pipa  PVC diameter 200 mm sepanjang 2.100 m. Untuk pemasangan pipa trasmisi yang baru, air baku dari intake dialirkan ke Instalasi Pengelola Air minum (unit produksi ) Bukit Timah menggunakan pompa centrifugal dengan kapasitas 250 l/det melalui pipa transmisi  HDPE diameter 630 mm sepanjang 320 m.


    Unit produksi atau instalasi pengelola air (IPA).Kapasitas rata-rata air yang akan di produksi adalah upriting dari 40 l/detik menjadi 80 l/detik. Instalisasi Pengelola Air Sudirman dan 250 l/detik yang akan diambil dari Sungai Mesjid yang berjarak 12 km dari rencana lokasi Instalasi Pengelola Air di Bukit Timah.


    Instalasi pengelola Air menggunakan sistem reverse osmosis. Reverse osmosis merupakan proses pemisahan berbagai impuritis dari dalam air dengan cara melewatkan air pada suatu membrane yang bersifat semipermeabel. Membran semipermaebel ini hanya melewati very small atoms dan groups of atoms seperti molekul air  ,molekul organik kecil, dan gas . Hydrated ions atau ion yang telah larut di dalam air dan oleh karenanya dikelilingi oleh molekul air, tidak mampu melewati membran. Teknologi reverse osmosis dalam berbagai aplikasi proses pengelolahan air permukaan memiliki berbagai keuntungan antara lain :

      • Kualitas filtrat yang  konsisten pada berbagai variasi kondisi umpan.
      • Tingkat kekeruhan sampai dengan 100 NTU dapat di turunkan menjadi kurang dari 0,1.
      • Proses pemisahan koloid, mikroorganisme, dan di valen dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia.
      • Kemampuan membran merejeksi seluruh bakteri dan virus sekaligus merupakan proses desinfeksi, sehingga proses desinfeksi lanjut hampir tidak diperlukan.
      • Reverse osmosis dengan tingkat rejeksi kontaminan yang tinggi telah mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Air ini dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan utilitas, terutama air minum.

    Pusat pendistribusian air (reservoir)

    Reservoir di instalasi pengolahan air Jl. Jenderal Sudirman terdapat 3 buah reservoir yang berfungsi menampung air hasil olahan dari unit produksi dengan kapasitas masing-masing 400 m3, 200 m3 dan 100 m3. Sedangkan reservoir di instalasi pengolahan air bukti timah memiliki kapasitas 4000 m3.


    Jaringan pipa distribusi

    Air dari reservoir di distribusikan ke masyarakat dengan bantuan pompa distribusi jenis centrifugal sebanyak 2 buah. Pompa distribusi yang satu berkapasitas 80 l/det yang ditempatkan di reservoir Jl. Jenderal Sudirman dan yang lainnya berkapasitas 250 l/det  dari reservoir Bukit Timah. Pompa distribusi air minum kapasitas 80 l/det di alirkan melalui pipa distribusi utama diameter 250 mm. kemudian aliran terbagi 2 yaitu yang satu menuju ke daerah pelayanan masyarakat di Dumai Kota dan yang lainnya menuju pabrik minyak kelapa sawit PT. Bukit Kapur Raksa (BKR) dengan pipa diameter 150 mm. Sedangkan pompa distribusi air minum kapasitas 250 l/det di alirkan melalui pipa distribusi utama diameter 630 mm, kemudian aliran terbagi dua yaitu yang menuju daerah `pelayan masyarakat di Purnama kearah Lubuk Gaung diameter pipa 250 mm dan yang satunya ke arah pelayanan masyarakat kota dan daerah ke Pelintung menggunakan pipa diameter 400 mm.


    Penyambungan / koneksi sambungan baru

    Wilayah di pusat kota sudah di jangkau oleh jaringan pipa distribusi, namun jumlah pelanggan hanya berjumlah 1367 unit atau hanya sekitar 3% dari jumlah penduduk. Beberapa kelurahan yang sudah di jangkau oleh jaringan pipa distribusi diantaranya adalah : Kelurahan Dumai Kota, Kelurahan Buluh Kasap, Kelurahan Teluk Binjai, dan Kelurahan Rimba Sekampung. Asumsi dasar setelah pembangunan infrastruktur yang baru akan ada penambahan sambungan rumah 5000 unit.

Posting Popular
Error: Cannot create object